Penetapan Allah dan Doa

Pertanyaan:

Pak David, saya ada pertanyaan yang timbul dari jawaban tentang kedaulatan Allah yang saya hubungkan dengan ayat ini: 2 Samuel 12:10, “Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.”

Seandainya Daud berdoa habis-habisan memohon pada Tuhan agar pedang boleh menyingkir dari kehidupan keturunannya maka apakah berarti tidak akan merubah apa pun sebab Tuhan sudah menetapkannya ? Bolehkah disimpulkan bahwa Amnon ikut menanggung kesalahan Daud?

Tanggapan:

Theologi Reformed mengajarkan bahwa Tuhan menetapkan segala sesuatu dan penetapan Tuhan ini bukan berdasarkan pra-pengetahuan (foreknowledge) Tuhan tetapi berdasarkan kehendak-Nya sendiri. Banyak orang yang salah mengerti mengenai hal ini. Misalnya, ada orang yang percaya Tuhan menetapkan siapa-siapa yang akan selamat (election) dan binasa (reprobation), tetapi ini didasarkan atas pra-pengetahuan Tuhan atas respons orang tersebut di dalam hidupnya. Kalau orang tersebut akan menerima Injil, maka Tuhan menetapkan dia untuk selamat. Kalau orang itu akan terus menerus menolak Injil sampai mati, maka Tuhan menetapkan dia untuk binasa. Ini kita tidak terima. Di dalam Tuhan menetapkan segala sesuatu, Tuhan tidak bergantung pada apa pun di luar diri-Nya. Kita akan pelajari ini di PIW 3.

Kalau demikian, maka tidak mungkin doa Daud dapat mengubah apa pun yang telah Tuhan tetapkan. Hidup Daud menunjukkan hal ini. Setelah nabi Natan memberitahu hukuman yang akan langsung dialami Daud, yakni anak hasil perselingkuhan dia dan Batsyeba akan mati, maka Daud coba memutar balikkan hal ini dengan berdoa dan berpuasa, bahkan sampai berbaring di tanah semalam-malaman, dan tidak makan sampai tujuh hari. Setelah tujuh hari, anak tersebut tetap mati, menandakan bahwa ketetapan Tuhan tidak dirubahkan oleh permohonan Daud.

Tapi bukankah Alkitab juga mencatat Tuhan mengubah ketetapan-Nya karena tindakan manusia? Misal tercatat di Yun 3:10, setelah Tuhan melihat bagaimana rakyat Niniwe bertobat dan berbalik dari tingkah laku mereka yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan- Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.” Perlu kita pahami bahwa Tuhan tidak mungkin menyesal. Setiap kali Alkitab menulis bahwa Tuhan menyesal, kita perlu mengerti ini sebagai gaya  bahasa  manusia  dari  sudut  pandang  manusia. Misalnya, 1 Sam 15:11 menuliskan bagaimana Tuhan menyesal: “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” Agak aneh kalau Tuhan menyesal karena hal ini, karena bukankah Saul dijadikan raja juga karena ketetapan Dia? Tapi di 1 Sam 15 juga kita melihat bagaimana Samuel mengatakan Tuhan bukan manusia sehingga Dia tidak mungkin menyesal (1 Sam 15:29). Jadi kata menyesal” di sini harus dimengerti lebih kaya.

Kembali ke Yunus. Apa maksudnya Tuhan menyesal dari malapetaka yang telah dirancangkan-Nya itu? Sekali lagi ini dari sudut pandang manusia dengan gaya bahasa manusia. Yang diberitakan Yunus kepada orang-orang Niniwe adalah ancaman penghakiman Tuhan bila mereka tidak bertobat. Tetapi di dalam kekekalan, Tuhan sudah menetapkan bahwa orang-orang Niniwe pasti akan bertobat. Oleh karena itu, bukan orang-orang Niniwe mengubah ketetapan Tuhan (malapetaka yang telah Tuhan tetapkan atas mereka tidak terjadi karena  pertobatan mereka). Tetapi justru orang-orang Niniwe bertobat karena ketetapan Allah atas pertobatan mereka tidak mungkin digagalkan.

Amnon adalah anak Daud dan dibunuh oleh Absalom, yang juga adalah anak Daud. Kematian Amnon dan Absalom adalah bukti bahwa apa yang dikatakan oleh Tuhan melalui nabi Natan, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya,” benar-benar terjadi. Ya bisa dikatakan bahwa apa yang terjadi dalam hidup Amnon adalah akibat dari kesalahan Daud. Tapi jangan lupa, Amnon bukan orang yang tidak bersalah dan hanya menanggung kesalahan orang lain (hanya Yesus Kristus yang seperti ini, harus mengalami kematian bukan karena kesalahan Dia sendiri, tapi karena menanggung dosa-dosa umat-Nya). Amnon sendiri dibunuh oleh Absalom oleh karena Amnon memperkosa adik Absalom, yakni Tamar (2 Sam 13:10-14; bandingkan 13:22).