Bolehkah Kita Merasa Jenuh?

Pertanyaan

Selamat pagi pak David. Ada yang saya mau tanyakan mengenai khotbah di KU1 hari ini. Mengenai bangsa Israel yang mengeluh tentang makanan mereka selama pengembaraan mereka di padang gurun itu. Mereka komplain karena tidak makan daging dan sayuran seperti di Mesir. Mereka tidak bersyukur atas manna yg adalah roti surga, dan hanya mereka yang pernah cicipin, bangsa lain tidak pernah dan tidak pernah juga terulang di waktu yang lain. Di Alkitab tidak dijelaskan secara detail berapa lama mereka sudah makan manna dan apakah mereka tidak makan makanan lainnya selain manna itu? Saya berpikir diri saya sendiri juga mungkin mengalami suatu kebosanan/kejenuhan untuk suatu makanan yang sama untuk jangka waktu yang lama.

Apakah salah ketika kita merasakan bosan/jenuh? Apakah salah ketika kita mengajukan komplain atau keluhan? Apakah salah ketika mengharapkan atau menginginkan sesuatu yang berbeda? Mungkin saya akan menjadi salah satu orang yang komplain mengenai keinginan saya untuk meminta makanan lainnya” itu? Saya bertemu banyak orang Kristen yang akhirnya memilih mengambil keputusan untuk nrimo saja kondisinya” dan tidak berusaha untuk bekerja keras untuk mendapatkan lebih atau merasa berdosa ketika dia memiliki suatu ambisi. Apakah salah ketika kita mengharapkan lebih?

Mungkin saya salah mengaitkan konteks cerita di atas dengan pertanyaan saya ini? Dari pertanyaan ini, saya berharap tidak jatuh dalam dosa yang sama dengan bangsa Israel tetapi juga tidak mau menjadi orang Kristen yang pasif dengan konsep nrimo” itu. Maaf kalau pertanyaan saya jadi panjang lebar. Terima kasih pak

Tanggapan:

Sebagai latar belakang, di dalam kotbah KU1 (tanggal 10 November 2019), saya membicarakan mengenai keluh kesah Israel kepada Tuhan di Bil 11. Ada sebagian dari mereka yang kerasukan nafsu makan yang menyebabkan orang Israel terhasut dan menangis meminta daging (Bil 11:4). Mereka teringat-ingat kepada daging yang mereka dapatkan di Mesir. Tidak peduli mereka adalah budak di sana, tetapi yang penting mereka bisa makan daging. Nafsu rakus tersebut mengakibatkan mereka menganggap rendah anugerah, bahkan mujizat, Tuhan. Manna yang telah Tuhan turunkan dari surga (pertama kali dicatat di Kel 16:13), suatu yang tidak seharusnya terjadi telah terjadi di antara mereka, akhirnya mereka anggap sebagai suatu hal yang biasa; tidak ada suatu apa pun, kecuali manna ini saja yang kita lihat” (Bil 11:6).

Hidup orang Israel di padang gurun adalah suatu hal yang sementara. Untuk sementara saja mereka harus melintasi padang gurun sebelum mereka memasuki tanah perjanjian. Tuhan sendiri sudah menjanjikan suatu tanah yang limpah dengan susu dan madu kepada mereka (Kel 3:8, 17; 13:5; 33:3; dan lain sebagainya). Justru adalah kehendak Tuhan orang Israel mengalami kelimpahan Tuhan. Kalau orang Israel nrimo” pimpinan Tuhan, justru mereka akan mengalami kelimpahan Tuhan. Justru karena mereka tidak nrimo” (tidak percaya) kepada pimpinan Tuhan, mereka akhirnya lama menderita di padang belantara.

Orang Israel keluar dari tanah Mesir pada hari ke-14 di bulan pertama (Abib) setelah mereka melakukan Paskah pertama (bandingkan Kel. 12:18, 29-31, 51; 13:4). Pada hari ke-15 di bulan kedua, sekitar satu bulan kemudian, mereka mendapatkan Manna dari Tuhan (Kel.16:1). Bil.9 mencatat kali kedua orang Israel akan merayakan Paskah di padang gurun, yakni hari ke-14 di bulan pertama pada tahun kedua (Bil.9:1-3). Bil.10 mencatat hari ke-20 di bulan kedua pada tahun kedua (Bil.10:11). Gerutu orang Israel tercatat di Bil 11. Berarti hanya sekitar satu tahun setelah orang Israel pertama kali makan manna dari Tuhan, mereka sudah bosan dengan pemberian Tuhan yang sebenarnya menunjukkan keajaiban belas kasihan Tuhan kepada mereka.

Walaupun demikian, Tuhan masih berbelas kasihan kepada mereka. Tidak lama setelah kejadian di Bil.11, Tuhan membawa mereka tiba di perbatasan tanah perjanjian (Bil.13). Tuhan meminta Musa mengirim dua belas pengintai, satu pengintai dari setiap suku, untuk mengintai tanah perjanjian tersebut. Kita tahu bagaimana akhir cerita ini. Orang Israel, berdasarkan laporan dari sepuluh mengintai, kembali berkeluh kesah kepada Tuhan dan memutuskan untuk mengangkat seorang pemimpin baru menggantikan Musa untuk membawa mereka kembali ke Mesir. Tuhan demikian marah sehingga menjatuhkan hukuman bagi mereka mengembara selama 40 tahun agar setiap orang di generasi pertama yang keluar dari Mesir, kecuali Yosua dan Kaleb, mati satu persatu di padang gurun dan tidak dapat masuk ke dalam tanah perjanjian (Bil.14:28-34). Perjalanan dari Mesir sampai ke tanah perjanjian tidak perlu memakan waktu yang demikian lama. Perjalanan tersebut menjadi 40 tahun bukan karena jarak yang jauh, tetapi sebagai akibat hukuman Tuhan, karena hati mereka jauh dari Tuhan.

Pokok permasalahannya bukan soal berapa lama mereka sudah makan manna. Pokok permasalahannya  adalah  mereka  tidak  percaya  pimpinan Tuhan. Tuhan mau  membawa  mereka kepada kelimpahan susu dan madu di tanah perjanjian sebagai suatu umat Tuhan yang bebas. Tetapi, walaupun hanya sebentar lagi mereka masuk ke dalam kelimpahan tanah perjanjian, mereka lebih memilih untuk diperbudak asal mereka dapat makan daging dan buah-buahan. Justru karena mereka tidak nrimo” pimpinan Tuhan, mereka akhirnya dihukum oleh Tuhan, mati di padang belantara tersebut, tidak dapat masuk ke dalam tanah yang dijanjikan Tuhan.

Bagaimana dengan hidup kita? Hidup kita adalah hidup yang mengembara. Di dalam hidup mengembara ini, Alkitab mengajarkan kepada kita untuk mengusahakan yang terbaik untuk Tuhan. Ingat bahwa manusia diciptakan di dalam gambar dan rupa Tuhan untuk menjadi wakil Tuhan yang memerintah ciptaan. Sebagai wakil dan steward Tuhan atas seluruh ciptaan, orang Kristen bukan hanya memelihara ciptaan, tetapi juga harus mengusahakannya (Kej 2:15). Orang Kristen tidak seharusnya puas dengan setia memelihara yang sudah ada saja (ingat, apa yang Tuhan katakan kepada hamba yang hanya setia memelihara 1 talenta saja; Mat 25:26). Kata mengusahakan berarti ada suatu nilai tambah yang diberikan. Orang Kristen harus juga mengusahakan apa yang Tuhan berikan. Mengusahakan berarti menghasilkan nilai tambah. Ini alasan mengapa kita menolak etika asketisme. Alkitab tidak pernah melarang anak Tuhan untuk berusaha mendapatkan lebih di dalam hidupnya. Hamba yang mengusahakan lima dan dua talenta dikatakan sebagai hamba yang baik dan setia.

Tapi hidup orang Kristen bukan hidup yang terpaku di dunia saat ini. Seperti orang Israel, kita masih mengembara menantikan penggenapan janji Tuhan atas dunia yang akan datang. Sebagai pengembara, kita juga nrimo” pimpinan Tuhan dalam hidup ini. Kita tidak tertarik dengan segala kenikmatan dunia yang bukan berasal dari kehendak Tuhan. Tuhan mau membawa kita kepada kelimpahan dunia yang akan datang, bukan kelimpahan dunia saat ini. Pertanyaannya, apakah kita percaya kepada pimpinan Tuhan dalam hidup ini, atau kita merasa dunia ini (Mesir) lebih menarik? Sangat ironis sekali kalau kita tertarik kepada Mesir, karena sebentar lagi, hanya sebentar lagi, kita akan masuk ke dalam dunia yang akan datang tersebut.

Kesimpulannya apa? Saya berpikir terus, dan akhirnya saya simpulkan hidup di dalam dunia sementara ini adalah hidup nrimo aktif,” bukan nrimo pasif.” Orang yang nrimo pasif” tidak akan mengusahakan apa pun di dalam dunia ini. Sekali lagi, panggilan kita bukan hanya memelihara, tetapi mengusahakan apa yang Tuhan sudah percayakan kepada kita. Kita nrimo” semua pimpinan Tuhan untuk hidup kita, dan aktif mengusahakan segala hal, selama segala hal tersebut ada di dalam pimpinan Tuhan dan tidak menjauhkan kita kepada dunia yang akan datang itu.