Bagaimana Hubungan Alkitab dengan Buku Rohani?

Pertanyaan:

Jika Alkitab memang suatu cukup pada dirinya dan memiliki kejelasan bagi orang Kristen. Bagaimana seharusnya paradigma kita melihat kekayaan buku bacaan di momentum yang terkadang membuat tanpa sadar kita lebih mencintai baca buku daripada Alkitab jika kita tidak berhati-hati? Apakah kita bisa juga membaca renungan dari komentari yang ada? Maksud saya bisa perlahan jadi pelengkap bahan renungan kita? Thanks pak

Tanggapan:

Dua kesalahan yang dapat membuat kita jauh dari Alkitab. Pertama, merasa Alkitab sulit/tidak dapat dimengerti sehingga timbullah kemalasan di dalam membaca Alkitab. Kedua, merasa Alkitab terlalu gampang/elementary sehingga kita lebih kagum dengan buku-buku lain yang menjelaskan Alkitab daripada Alkitab sendiri. Perlu ada pertobatan untuk kedua kesalahan ini.

Membaca Alkitab perlu berada di dalam konteks community of interpreters yang mungkin kita dapatkan melalui membaca buku-buku komentari, buku-buku theologi, Study Bible, renungan, dan lain sebagainya. Tetapi semua ini tidak dapat menggantikan Alkitab itu sendiri. Alkitab memiliki keunikan yang tidak didapati buku apa pun. PIW 1.2 menuliskan ke-66 buku PL dan PB yang mendapatkan inspirasi Tuhan, atau lebih tepatnya, dinafaskan oleh Tuhan (2Tim 3:16), kata demi kata. Walaupun ke-66 buku ini dituliskan oleh manusia, karena dinafaskan oleh Tuhan, Tuhan juga adalah penulisnya (2Pet1:21). Tidak ada satu buku lain yang dapat dikatakan sebagai demikian. Walaupun banyak buku theologi yang baik, tetapi kalau kita lebih mencintai buku theologi lebih dari Alkitab, kita sudah salah mengerti.

Ini yang membuat Alkitab, dan hanya Alkitab, dapat memiliki empat atribut penting, yang sudah kita bahas di dalam kelas: SCAN—Sufficiency (Kecukupan), Clarity (Kejelasan), Authority (Kewenangan), dan Necessity (Keniscayaan). Ini yang membuat Alkitab menjadi the norming norm. Ini yang seharunsya membuat kita mencintai dan menundukkan diri di bawah Alkitab. Banyangkan, bahkan Anak Allah sendiri, ketika inkarnasi, menundukkan diri di bawah Alkitab (Mat 26:24; Luk 18:31; 24:44-46; Yoh 12:14-15; 15:25).