DAILY LIFE WITH GOD

Dec 2017
02
Psalm 15:1
oleh: John Calvin
Diterjemahkan oleh: Tirza Rachmadi
Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Terlalu sering kita lihat Gereja Tuhan dirusak oleh ketidakmurnian. Supaya kita jangan tersandung oleh apa yang kelihatannya begitu keterlaluan, perlulah pembedaan antara warga gereja yang permanen, dan orang asing yang berada di tengah mereka untuk sementara waktu. Peringatan ini sangatlah penting, supaya ketika terjadi, bahwa bait Tuhan dinodai banyak ketidakmurnian, kita jangan meninggalkannya karena jijik dan malu. Yang dimaksud dengan ketidakmurnian adalah kebiasaan berbuat jahat dari hidup yang rusak dan cemar. Jika agama dalam doktrin dan ibadahnya tetap murni, janganlah kita tersandung karena kesalahan dan dosa yang diperbuat manusia sampai kita memecahkan kesatuan Gereja. Pengalaman berabad-abad mengajar kita betapa kuatnya godaan untuk memecahkan gereja, ketika kita melihat gereja Tuhan, yang seharusnya bebas dari segala noda cemar dan bersinar dengan kemurnian, ternyata menyimpan dalam dadanya banyak orang munafik atau jahat. Di waktu lampau kaum Catharist, Novatian, Donatist kemudian memisahkan diri mereka dari persekutuan orang saleh. Kaum Anabaptist melakukan yang sama, karena bagi mereka, gereja di mana kebiasaan-kebiasaan berbuat jahat ditolerir, tidaklah mungkin gereja sejati. Namun Kristus, dalam Mat. 25:32 dengan sah mengklaim jabatan-Nya sebagai yang berhak memisahkan domba dari kambing, dan dengan itu memperingatkan kita: kita harus bertahan ketika ada kejahatan yang kita tidak bisa perbaiki, sampai waktu untuk pemurnian Gereja tiba.
Pada saat yang sama, orang beriman diinstruksikan, masing-masing dalam bagiannya, untuk berusaha sekerasnya demi pemurnian Gereja dari pembusukan-pembusukan yang masih ada di dalamnya. Lantai lumbung Tuhan yang suci tidak akan dibersihkan dengan sempurna sampai pada hari terakhir, ketika Kristus datang kembali dan mencampakkan sekam keluar. Ia sudah mulai melakukannya dengan doktrin Injil-Nya, yang seperti kipas. Karena itu kita tidak boleh tidak peduli. Sebaliknya kita harus berusaha sungguh-sungguh, bahwa semua yang mengaku diri Kristen menghidupi hidup yang kudus dan tak bernoda. Di atas semuanya, yang Tuhan proklamirkan mengenai segala ketidakbenaran harus ditanamkan dalam-dalam pada ingatan kita: bahwa Ia melarangnya dalam tempat kudus-Nya, dan memvonis dugaan mereka yang fasik, ketika mereka dengan tidak hormat memaksakan diri mereka masuk dalam komunitas orang saleh.
JEJAK DEVOTION