DAILY LIFE WITH GOD

Dec 2017
14
Psalm 17:1
oleh: John Calvin
Diterjemahkan oleh: Tirza Rachmadi
Dengarkanlah, TUHAN, perkara yang benar, perhatikanlah seruanku; berilah telinga akan doaku, dari bibir yang tidak menipu. Daud, dengan keyakinan akan integritasnya, menempatkan Allah sebagai Hakim antara dirinya dan para musuhnya, untuk memutuskan perkaranya. Ketika kita berhadapan dengan orang jahat, kita dapat mengadukan ketidakbersalahan kita kepada Allah. Kesaksian dari hati nurani yang bersih tidaklah cukup bagi orang beriman, maka Daud menambahkan doa yang sungguh-sungguh. Orang yang tidak beragama pun dapat mengatakan mereka tidak bersalah; tetapi mereka tidak mengakui bahwa dunia diatur oleh providensia Allah, sehingga mereka puas menikmati penilaian hati nurani mereka sendiri. Mereka tidak mencari penghiburan dari iman dan doa, melainkan menahan kerugian yang diakibatkan pada mereka, lebih dengan keras kepala daripada dengan teguh. Orang beriman tidak hanya bergantung pada kuatnya ketidakbersalahan mereka, melainkan menyerahkannya pada Tuhan yang membela dan menjaganya. Kapanpun kesulitan menimpa mereka, mereka datang kepada Tuhan untuk pertolongan.
Maka ayat-ayat ini adalah doa kepada Allah. Allah tahu bahwa Daud telah berlaku adil dan melakukan kewajibannya tanpa kesalahan. Maka jika Daud dilecehkan oleh musuh-musuhnya, ia meminta Allah untuk memandang kepadanya dengan belas kasihan melakukan ini terutama karena Daud berharap dan percaya pada pertolongan Tuhan, serta berdoa pada-Nya dengan hati yang tulus. Dengan doa ini Roh Kudus mengajar kita, bahwa kita harus berusaha dengan rajin untuk hidup lurus dan tak bercela. Dengan itu, jika ada yang mempermasalahkan kita, kita bisa menyatakan bahwa kita dipersalahkan dan ditindas dengan tidak adil. Juga, kapanpun orang jahat menyerang kita, Roh yang sama mendorong kita untuk berdoa. Siapapun yang hanya percaya pada kesaksian hati nurani yang bersih dan mengabaikan doa, mencuri kemuliaan yang adalah milik Tuhan, dengan cara tidak membawa perkaranya kepada Tuhan dan tidak membiarkan Tuhan yang menghakimi dan memutuskannya. Mari kita belajar, ketika kita menghadap Tuhan dalam doa, bukan dengan hiasan kefasihan bicara. Retorika dan keanggunan yang paling baik yang bisa kita miliki di hadapan Tuhan adalah kesederhanaan yang murni.
JEJAK DEVOTION