ARTIKEL AKADEMIS

Penuntun ke dalam Teologi Calvin – chapter IV dan V
oleh: Douglas F. Kelly

Realitas Allah Tritunggal sering menimbulkan pertanyaan dalam diri orang percaya. Sebagian dari kita akan memendam pertanyaan itu dalam hati kita yang paling dalam karena ragu apakah bertanya seperti itu diperbolehkan. Semakin lama kita memendamnya dan bersikap seolah-olah saya tidak punya pertanyaan seperti itu, semakin rumit keadaan dalam hati kita dan akhirnya kita menyerah dengan bersikap cuek terhadap teologi karena toh kehidupan praktis kita tetap berjalan seperti biasa.

Calvin menuliskan teologinya berdasarkan pembacaan alkitab. Lewat pembacaan buku Institutes nya, kita mendapatkan banyak doktrin yang dapat membantu kita untuk mengerti apa yang alkitab bukakan kepada kita tentang Allah.

Dibawah ini adalah saduran dari Penuntun ke dalam Teologi Calvin – chapter IV dan V.

----------------------------------------------------------------------------------------

Realitas Allah dipahami sebagai keberadaan yang kekal secara rohani dan kekal secara tritunggal. Melalui FirmanNya kita mengenal siapa Allah dan sekali bertemu dengan Allah yang benar, kita langsung bertemu dengan 3 pribadi. Keilahian penuh Anak dan Roh Kudus dilabuhkan pada esensi Allah. “Urutan” tertentu mungkin terlihat, tetapi siapapun dari 3 pribadi ilahi itu dapat dirujuk tanpa partikularisasi, hanya sebagai Allah didalam dan tentang diriNya.

Nama “AKU ADALAH AKU” berarti bahwa Allah itu secara mutlak eksis sendiri. Kemutlakan eksistensi ini dikenakan kepada Tuhan Yesus Kristus yang berarti bahwa Anak yang berinkarnasi adalah dari keberadaan yang sama tingginya. Tidak ada perbedaan dalam keallahan atau esensi Mereka.

Roh Kudus mendatangkan regenerasi dan ketidakfanaan dengan kuasaNya sendiri (bukan kuasa yang diperoleh). Banyak pekerjaan yang sama yang dihubungkan dengan Anak juga dihubungkan dengan Roh. Calvin: “singkatnya, atas Dia, seperti atas Anak, ada fungsi-fungsi yang khusus milik keilahian…jadi, melalui Dia kita datang ke dalam persekutuan dengan Allah,…karena jika Roh bukan suatu entitas yang hidup dalam Allah, pilihan dan kehendak sama sekali tidak akan ada padanya”

Seluruh keallahan merupakan keberadaan pribadi yang lengkap dalam diriNya yaitu Allah itu suatu persekutuan dari keberadaan pribadi. Epiphanies menegaskan bahwa keberadaan pribadi-pribadi trinitas adalah diluar permulaan dan diluar waktu dengan tidak ada “sebelum” atau “sesudah didalam Allah. Cyril mengatakan “Bapa tidak memiliki apa pun didalam diriNya yang tidak dimiliki Anak didalam diriNya”. Calvin menghubungkan eksis sendiri (autosia) dengan Kristus. Mereka dalam satu esensi, dimana ada suatu “urutan ekonomi” yang tertentu, dimana Bapa memiliki prioritas, tapi urutan ini tidak mengambil apa pun dari keilahian Anak dan Roh.

“kita tidak akan pernah yakin jelas bahwa keselamatan kita mengalir dari bak kemurahan hati Allah sampai pemilihan kekalNya dijelaskan kepada kita: Allah tidak mengadopsi semua orang tanpa membeda-bedakan, tapi memberikan pada beberapa orang apa yang ditiadakannya bagi orang-orang lain”. Ketidaktahuan akan doktrin ini akan mengurangi kemuliaan Allah dan menghalangi kerendahan hati yang sesungguhnya.

Efesus 1:1-3: bahwa iman kita jangan goyah dalam satu atau lain cara, tetapi memiliki suatu fondasi yang pasti dan tidak tergoyahkan untuk disandari, yaitu kebenaran Allah, sebagaimana terdapat dalam Injil. Kita jangan ragu bahwa Roh Allah berbicara kepada kita pada hari ini melalui mulutNya. Efesus1:3-4: walaupun kita susah didunia ini, ada alasan untuk kita berpuas diri dalam pemilihan Allah. Pemberitaan injil adalah hal dimana kebaikan Allah paling bersinar kepada kita.

Kesimpulan:

Keberadaan Allah adalah kekal dan eksistensiNya ada diluar waktu. Allah adalah satu secara numerical dan sekali bertemu dengan Allah yang benar, kita langsung bertemu dengan 3 pribadi. Dalam membaca firman Tuhan, kita mungkin dapat melihat urutan secara “ekonomi” tapi urutan ini tidak meniadakan sesuatu dalam pribadi Anak ataupun Roh Kudus. Urutan ini menunjukkan hubungan Bapa, Anak dan Roh Kudus. Dalam sifat keilahianNya, Mereka sama tinggi, tidak ada perbedaan.

(hal.71) Sebelum memaparkan penjelasan akan siapakah Allah, buku ini memberitahukan implikasi dari pengenalan kita akan Allah. Hal ini dapat memberikan kepada pembaca suatu insight baru, agar pembaca diingatkan untuk tidak sekedar mengetahui secara doctrinal tapi juga memiliki prinsip untuk via activa.

(hal. 75) “…sekali kita bertemu dengan Allah yang benar, kita langsung bertemu dengan tiga pribadi, dan ketika kita bertemu dengan ketiganya, kita bertemu dengan yang satu.” Kalimat ini memberitahukan bahwa pengenalan kita pada Allah adalah satu paket. Saat kita mengenal pribadi yang satu kita tidak dapat meninggalkan pribadi yang lainnya.

(hal. 76) Penulis menyajikan pemahaman doktrin Allah Tritunggal ini bersama dengan perjuangan historical Calvin dalam pemikirannya di jamannya mengenai Allah Tritunggal. (hal 86-90) memperlihatkan bagaimana perjuangan para teolog lainnya juga akan doktrin Allah Tritunggal ini. Buku ini bersifat obyektif terhadap pembahasan doktrin Allah.

Pemaparan akan pemikiran para teolog-teolog lainnya juga dapat membantu pembaca untuk berpikir kritis terhadap variasi dan perkembangan pandangan yang kerap dapat mengecohkan kita sekaligus memperkuat argumen-argumen Calvin dalam hal ini.

(hal. 95) “bahwa Anak itu diperanakkan secara kekal”. Istilah ini dapat mengecohkan kita untuk berpikir bahwa Anak adalah subordinat dari Bapa. Tetapi dijelaskan disini bahwa secara kekal diperanakkan bukanlah dalam pengertian biologis dan dalam lingkup waktu. Istilah ini menunjukkan hubungan esensi antara Bapa dan Anak. Dalam halaman berikutnya langsung disambung dengan esensi Anak yang autotheos.

(hal. 118) pembahasan akan doktrin predestinasi membawa pada pengenalan akan Allah kovenan. Anugerah dari Allah kovenan dan doktrin predestinasi bagaikan sebuah koin dengan 2 sisinya. Allah kovenan sekaligus menguatkan dampak dari kovenan itu, yaitu adanya kaum reprobat. Bahwa Allah tidak mengakui beberapa orang dan menyukai yang lain. PemilihanNya kepada keselamatan beberapa orang memperkenalkan kemurahan hatiNya dan sekaligus merupakan suatu penghakiman yang kudus.

(Disadur oleh Vera)

JEJAK ARTIKEL