ARTIKEL AKADEMIS

Kepemimpinan dalam Kerusakan Sistemik Menahun
oleh: Elya K. Wibowo

Dalam konteks segala kerusakan sistemik dan menyeluruh, yang sudah tumpang tindih, kepemimpinan menuntut kemampuan untk melampaui apa yang semata di depan mata.

Pertama, bukan terus hanya bermodal idealisme teoritis mimpi di siang bolong ala pengamat pencari nafkah, akademisi menara gading, atau demonstran profesional, tapi kombinasi antara idealis dan realistis, keberanian melihat kondisi eksisting apa adanya sebusuk apapun itu, tidak munafik dlm kenyamanan sistim yang sudah ada. Berani mengatakan yang kotoran ya kotoran, tidak usah dihaluskan menjadi sesuatu yang harus dimaklumi.

Kedua, keberanian mendobrak harus disertai integritas dan kendali diri yang luar biasa, karena ketika harus bermain di luar kenyamanan dan keamanan sistim yang sudah ada, maka hanya integritas dan kejujuran yang mampu melindungi agar terobosan tidak menyeleweng dari tujuan mulia awal, selalu dikembalikan ke maksud awal, selalu diuji dengan sangat kejam agar tidak ada tempat buat kepentingan diri yang terselip.

Ketiga, kepemimpinan dalam kondisi kerusakan puluhan tahun harus mencari peluang, memilih mau perang lewat mana ditengah segala kerusakan yang sudah ada. Harus berani melihat kondisi eksisting yang tidak bisa diubah (kalo coba diubah mati sia2) dan berani menerima dan mencoba memutar kondisi yang buruk itu untuk kebaikan semaksimal mungkin, meskipun hanya memperbaiki sedikit (berperang cerdas). Jika perlu harus meminjam tangan dan menerima kerjasama dengan orang jahat yang bersedia diajak insyaf, untuk menghabisi orang jahat yang masih mau meningkatkan kejahatannya.

Keempat, pemimpin dalam kondisi seperti ini melihat jauh kedepan, sadar bahwa mungkin dirinya hanya meletakkan dasar untuk pemimpin masa datang meneruskan jerih payahnya. Dia tidak butuh pengakuan, tidak butuh semua keberhasilan harus pada saat dirinya menjabat, bahkan kadang dengan sengaja memposisikan masa kepemimpinannya sebagai penyapu ranjau untuk pemimpin berikut, dengan segala resiko kehancurannya.

Kelima, jangkar dari kepemimpinan seperti ini adalah motivasi yang murni, nurani, keyakinan, dan pengharapan bertumpu kepada apa atau siapa yang melampaui teori, ideologi, mazhab keilmuan, religiusitas, narsisme self motivation, delusi psikologis. Jika tidak maka semua tindakan kepemimpinan yang harus sangat kalkulatif menimbang hanya akan menghasilkan idealisme sempit, eksploitasi religiusitas, freakshow, atau logika pragmatis hitung2an keselamatan dan keuntungan diri saja.

Keenam, kepemimpinan seperti ini adalah kepemimpinan yang paling sulit dijalani; sangat gampang teriak teriak idealis ketika tidak menjabat, lebih gampang membangun sesuatu dari nol, jauh lebih sulit menyeimbangkan dan mengusahakan kemajuan dan kebaikan ditengah pusaran kebusukan yang sudah lebih besar, lebih dulu, lebih kuat dari dirinya.

Ketujuh, kepemimpinan semacam ini biasanya jarang yang bertahan lama, atau seringkali berakhir tragis dikeroyok orang jahat, orang bodoh, dan orang baik tapi tidak paham akan sesuatu yang melampaui kasat mata atau kekinian. Setelah mereka pergi atau dihancurkan, baru ditangisi dan dirindukan oleh khalayak ramai yang sebagian baru sadar apa yang dulu diupayakan, namun juga akan selalu dihujat dan disyukuri kematiannya oleh mereka yang akan terus buta, mereka yang sudah terlalu lama berkanjang dan menyantap kotoran, sehingga ketika ada yang berusaha mengajar makan nasi, dihabisilah dia.

Kepemimpinan semacam ini tidak akan merasa rugi melakukan apa yang sudah diupayakan, bahkan kegagalan dimata orang lain tidak dipedulikan. Karena tolok ukur kegagalan atau keberhasilannya bukan di fenomena yg terlihat, tapi diukur dari sejauhmana yang dihadapi, sejauhmana yang masih bisa dihasilkan, dan sejauhmana masih bisa tetap tulus dan murni sampai akhir. Dihancurkan bukan kegagalan, dibelokkan atau tidak lagi konsisten berjuang untuk hal yang sama barulah disebut kegagalan.

Kita kadang terlalu bodoh dan terjerumus dalam hiruk pikuk, sehingga menjadi ahli dalam meratapi kepemimpinan yang sdh berlalu, yang dulu ikut dikutuknya dan baru disadari kemudian hari.

Kita juga kadang sangat bodoh, sehingga gampang dimanfaatkan untuk bernostalgia dengan kepemimpinan masa lalu yang penuh tipuan, karena ketidakmauan melihat kotoran dan kebiasaan makan kotoran.

Kepemimpinan yang sesungguhnya bukan tokoh pahlawan kesiangan dalam sinetron picisan, atau superhero dengan kekuatan mengubah segala sesuatu dalam sekejap. Kepemimpinan yang sesungguhnya adalah beratnya menimbang segala sesuatu yang tidak hitam putih, kadang antara abu-abu gelap dan abu-abu muda, antara yang kelihatannya salah dan yang benar benar salah. Yang keracunan sinetron dan kesantunan penjahat selama berpuluh-puluh tahun memang butuh detoksifikasi yg begitu lama, dan dalam proses detoksifikasi itu masih ingin mimpi kenyamanan status quo dan tanpa rasa sakit..."

JEJAK ARTIKEL