ARTIKEL AKADEMIS

Kepribadian Menurut Pannenberg
oleh: Fred Sanders

Kepribadian (Personhood) Menurut Pannenberg

18 Desember 2013 oleh Fred Sanders

Wolfhart Pannenberg adalah seorang dari para teolog yang hebat di abad 20. Kehandalannya sebagai seorang pemikir doktrinal sesuai dengan penguasaan materi2 sejarah di setiap doktrin kekristenan. Publikasi pertama Pannenberg di tahun 1963 (kumpulan esai dari beberapa penulis yang berjudul Revelation as History), dan dia menyelesaikan Systematic Theology sebanyak 3 volume di tahun 1993. Sejalan dengan itu, dia menulis banyak buku2 lain dalam Kristologi, metafisik, ilmu pengetahuan, dan antropologi.

Buku antropologi itu, yang berjudul Anthropology in Theological Perspective, setebal 500 halaman. Salah satu dari pernyataan kunci yang dibuat oleh Pannenberg dalam antropologi teologisnya adalah kita harus melacak gagasan kepribadian (personhood) itu sendiri kembali kepada konsep kita akan Tuhan. Berargumentasi dalam hal ini berarti bergerak ke arah yang berlawanan dengan reaksi standar kita: kita cenderung berpikir bahwa diri kita sebagai orang2 dan Tuhan sebagai entah bagaimana adalah suatu pribadi. Tapi Pannenberg menyusun argumentasi yang bersifat psikologi, sejarah dan ilmu pengetahuan sosial untuk bergerak dari yang ilahi menuju manusia dalam mendefinisikan kepribadian (personhood).

Argumentasi tersebut rumit, tapi gambaran kasar nya dapat ditemukan setidaknya di suatu tempat: Pannenberg menulis artikel ensiklopedia tentang “person” dalam karya referensi agama yang berjudul Geschichte und Gegenwart.

Suatu waktu ketika studi sarjana, saya membuat terjemahan kasar bagian penting dari artikel tersebut. Akhir2 ini seorang kenalan meminta saya untuk meringkas argumentasi Pannenberg dan saya mengirimkannya kutipan ini. Saya berpikir orang lain mungkin akan tertarik.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Apa yang saat ini dinamakan dengan kata “pribadi”, pertama kali dikaji oleh humanis lewat kekristenan. Jaman dahulu tidak membedakan pribadi dari individu (spiritual) (jadi, persona dalam bahasa Latin yang berarti ‘topeng’ dan kemudian menjadi ‘peran actor’, akhirnya menjadi ‘peran sosial’ dan ‘karakter’).

Arti dari kepribadian (personhood) dan individu membawa persoalan2 sulit dalam pemahaman Trinitas dan kesatuan Allah dan manusia dalam Yesus Kristus: pemikiran akan 3 pribadi ilahi harus didepan, setidaknya bagi pemikiran Aristotelian untuk dapat menerima doktrin 3 substansi. Sementara di lain sisi, ketika kesatuan ilahi-manusia dalam Yesus Kristus dapat dimengerti dengan cara Alexandrian dan Chalcedon, sebagai kesatuan personal, jalan keluarnya menjadi tak terhindarkan bahwa natur manusia dalam Yesus bukan individual dan Anthiochenes melihat dengan adil dalam doktrin inkarnasi ini, partisipasi Yesus dalam sepenuhnya manusia. Meskipun ada persoalan2 seperti ini, gereja2 kuno tidak dapat mendefinisikan secara dasar apa itu pribadi dan apa itu individu. Selama ini, definisinya adalah sebagian besar perpaduan dari sisa kesulitan2 yang tak terpecahkan dalam doktrin Trinitas dan Kristologi. Definisi pribadi yang terkenal dan memberi pengaruh yang dikemukakan oleh Boethius, mengkarakterisasinya sebagai rationalis naturae individual substantia (MPL 64, 1343 C)

Pemahaman kepribadian (personhood) sebagai individu spiritual tetap digunakan dalam era modern, khususnya dalam Humanisme dan jaman Pencerahan. Jaman Pencerahan melihat inti dari individu spiritual dalam kesadaran diri. Lazim berpikir bahwa Tuhan juga sebagai pribadi dalam hal ini, sampai tahun 1798 J.G. Fichte menyusun bahwa jika Tuhan adalah tak terbatas, Dia tidak mungkin pribadi: kesadaran diri selalu mendahului keberadaan yang lain, berbeda dengan seseorang yang menyadari dirinya. Kalau begitu Tuhan tidak dapat dikatakan tak terbatas dan tidak mungkin adalah Pencipta segalanya, jika Ia pribadi. Sejak serangan Fichte, “kepribadian (personhood) Tuhan” menjadi peperangan, pergumulan melawan idealisme Jerman dan dimenangkan oleh Pantheisme (sebenarnya hanya Schelling). Kapan saja idealisme Jerman diserang dibawah bendera ini, kepribadian (personhood) di mengerti sebagai individu spiritual (kesadaran diri): Dalam teologi Kant, baik aliran rasionalis, juga aliran supernaturalis yang mengarah ke Ritschl dan juga teisme spekulatif abad pertengahan yang bergantung pada Kant mengikat erat realita kepribadian (personhood) Tuhan dengan manusia. Bukan hanya Jerman, metafisik personal ini telah mencapai Swedia, Perancis dan Amerika, menjadi dasar filsafat untuk humanisme personal dalam individu spiritual dan kebebasan.

Kristologi gereja kuno telah mencapai sasaran pemahaman kepribadian (personhood) sebagai relasi; kepribadian (personhood) Yesus ditegakkan sebagai sebuah enhypostasis (kemanusiaan Yesus memiliki keberadaan yang sepenuhnya dalam pribadi Anak dalam inkarnasi) (Leontius Byzantium) lewat hubungannya dengan Logos. Pemahaman relasional dari kepribadian (personhood) sebagai keterhubungan dengan Tuhan pertama kali justru dipahami dalam perjalanan sejarah doktrin Trinitas. Agustinus telah memahami pribadi2 Trinitarian sebagai relasi: Bapa hanya menjadi Bapa dalam hubungannya dengan Anak, Anak hanya menjadi Anak dalam hubungannya dengan Bapa. Richard dari St. Victor, di abad 12 adalah yang pertama mencetuskan konsekuensi2 dari pemahaman akan kepribadian (personhood) secara umum. Dengan logika dari pemahaman relasional kepribadian (personhood), dia mendefinisikannya sebagai existentia; suatu ada (being; sistere) yang terpisah dari (ek) yang lain. Hanya dalam pertentangan ini, pribadi tidak dapat digantikan (incommunicabilis); hanya dalam relasi kepada Bapa, Anak adalah Anak dan bukan yang lainya (De Trinitate IV, 12; MPL 196, 937f). Duns Scotus, pada pokoknya memperdalam konsep Richard mengenai pribadi, terutama berkaitan dengan masalah ontologis dan antropologis. Berlawanan dengan Thomas Aquinas yang berdasarkan pembedaannya akan esse dan essentia, memikirkan tindakan dari ada (being) adalah momen pembentukan dari kepribadian (personhood) manusia, Duns Scotus memahami hanya dengan relasi dengan Tuhanlah manusia sebagai pribadi dapat terbentuk. Bagi Duns Scotus, seorang manusia dapat menjadi pribadi dengan 2 cara: otonomi dari Tuhan atau perenungan kepada Tuhan

Abad 19 sepertinya kembali menang, lewat pendekatannya sendiri, konsep mengenai pribadi sebagai relasi. Ide Fichte bahwa kesadaran diri hanya berasal dari diferensiasi diri dari dunia luar, di formulasikan secara personal oleh Jacobi: “Tanpa suatu “Kamu”, suatu “Saya” adalah tidak mungkin.” Situasi ini ditemukan ulang sebagai dasar dari konsep pribadi yang diungkapkan oleh Hegel dalam Philosophy of Religion, sekali lagi secara signifikan dalam hubungannya dengan masalah Trinitas. Keberatan2 akan pemahaman yang melawan ketidakmungkinan kesatuan tiga pribadi, dijawab oleh Hegel dengan ide bahwa adalah esensi dari suatu pribadi untuk menyerahkan dirinya pada yang lain dan tepat dalam yang lain menerima dirinya sendiri. Kesatuan Tuhan dimengerti sebagai kesatuan kasih, dibawa kepada kepenuhan dalam ketaatan mutual 3 pribadi tersebut. Karena itu Hegel melampaui argumentasi Fichte yang mengatakan bahwa Tuhan tidak mungkin personal, lewat pemahaman yang dalam dari kepribadian (personhood); dan tidak hanya dalam doktrin Trinitas, tapi juga menekankan bahwa Tuhan adalah subyek. Teologi tidak menghargai pelayanan Hegel. Melainkan menyalahkan dia sebagai seorang pantheis dan sebagai penentang adanya Tuhan, sayangnya teologi tidak menemukan jawaban yang memuaskan untuk argumentasi Fichte. Sementara itu para Hegelian muda salah menangkap ide Hegel untuk kompromi dengan doktrin gereja. Feuerbach mereduksi pernyataan Trinitas Hegel untuk antropologi mereka, menjaga relasi ketaatan antara Saya dan Kamu sebagai dasar relasi manusia. Feuerbach mempengaruhi Ebner dan Buber, yang menyalakan api jejak untuk pemahaman pribadi sebagai relasi di abad 20. Ide ini merebak dengan cepat dalam filsafat (Cohen, Rosenzweig, Litt, Lowith, Grisebach, Marcel, Jaspers) dan dalam teologi, terutama di sisi protestan (Brunner sejak 1924, Gogarten sejak 1926, Heim sejak 1931) tapi juga dalam pemikiran katolik (Guardini, P. Wust, Th. Haecker) sejak perang dunia I, dan sekarang telah menjadi milik umum.

Seorang manusia, pertama-tama adalah suatu pribadi dalam menemukan dirinya sendiri berhadapan dengan Tuhan yang sebagai pribadi. Tuhan adalah suatu pribadi, bukan suatu benda, karena sebagai kuasa tidak dikenal yang melampaui keberadaan, Ia pada dasarnya tidak dapat dipahami sepenuhnya. Bukan kebetulan manusia kuno dan anak2 jaman sekarang – mewujudkan segala sesuatu yang penting bagi mereka, yang tidak semuanya diketahui, dan karena itu ada ketersembunyian, sisi dalam. Apapun itu asal setidaknya ada dalam bentuk prinsip dapat berubah menjadi suatu wujud. Karena itu yang Ilahi adalah pribadi, selama tidak dikaburkan menjadi fungsi kosmik. Allah yang ada di Alkitab secara esensi adalah pribadi, Karena Dia selalu membawa peristiwa2 khusus yang baru, secara konstan berlaku tidak dapat diprediksi, Karenanya pembuktian ketidakterbatasanNya adalah kebebasanNya. Bahwa Allah dalam kesatuan esensiNya adalah pribadi yang meletakkan dasar bagi karakter 2 pribadi yang membedakan Anak dari Bapa dan Roh dalam pekerjaanNya dalam gereja.

Tuhan membuat manusia sebagai pribadi. Tuhan, adalah mahakuasa tanpa kita, Dia memiliki manusia yang dibuangNya dan dapat memperlakukan manusia sebagai benda2. Tapi sejauh ini, Tuhan memasuki sejarah manusia, menyatakan diriNya pada mereka, Dia mengambil mereka sebagai “Kamu”. Karena keinginan untuk pewahyuan dan karenanya perendahan diri adalah karakter dari keberadaan Allah yang kekal, Allah menganugerahkan kepribadian (personhood) kepada manusia, bukan hanya untuk menunjukkan saja, tapi dari kesetiaan kekal. Hal ini mendapatkan ekspresi – terinspirasi dari Alkitab – dalam teologi Agustinus, Duns Scotus, Luther.

Manusia adalah pribadi lewat orientasi mereka pada Tuhan. Keterbukaan kepada dunia yang membedakan manusia dari binatang, dan yang memiliki makna yang penuh seharusnya di mengerti sebagai keterbukaan kepada Tuhan, itulah yang membentuk kepribadian (personhood). Hal ini disadari, seperti yang dipahami oleh Duns Scotus, entah sebagai keterbukaan yang hormat kepada Tuhan atau sebagai kebebasan yang tertutup dari Tuhan, yang (dimana Tidak terlihat oleh Duns Scotus) memiliki karakter dosa. Oleh karena itu manusia bukanlah pribadi tergantung pada kapasitas spiritual yang ia miliki, tapi dimengerti dengan sebaliknya: Dia hanya dapat dimengerti dalam individualitasnya sebagai makhluk spiritual, dari kepribadian (personhood)nya, dari keterbukaan esensinya.

Manusia ada sebagai pribadi dalam relasi dengan manusia yang lain. Hubungan antar manusia “Saya” dan “Kamu” bukanlah dasar dari kepribadian (personhood), tapi mengalir dari dalamnya: Dalam manusia yang lain “Saya” bertemu dengan suatu “ada“ yang seperti “Saya”, dan berbeda karena ketetapan yang konstan (keterbukaan terhadap dunia!). Karena itu, manusia yang lain tidak berada dalam pembuanganNya, dan tidak dapat sepenuhnya berubah menjadi suatu benda.

Lebih jauh lagi, penetapan manusia bagi Tuhan ini, karena ini ada dalam semua manusia seperti ada dalam “Kamu”, tidak akan pernah bisa menjadi tujuan individu yang terisolasi untuk diri mereka sendiri. Kepribadian (personhood) lebih cenderung kepada perluasan menuju komunitas dan pengaturan setiap hal2 yang rinci dalam keseluruhan komunitas itu. Kepribadian (personhood) dipenuhi oleh tindakan kasih-berserah kepada yang lain yang tertentu dan di waktu bersamaan kepada keseluruhan komunitas: dalam dualitas, dimana tidak hanya mencari kepuasan diri sendiri, tapi untuk menjadi berkat bagi masyarakat, dalam panggilan untuk melayani bukan hanya untuk kondisinya sendiri, tapi untuk menyadari tanggung jawab internasional.

Dalam sejarah2 kehidupan individu, suatu pribadi mencapai wujudnya sebagai kepribadian (personhood). Sejak kelahiran, setiap manusia adalah suatu pribadi berdasar kebajikan yang telah ia tentukan. Setiap orang harus pertama-tama menjadi suatu kepribadian lewat sikap yang ia ambil dalam pandangannya dalam menetapkan dirinya sebagai manusia, lewat jawaban yang ia berikan dengan hidupnya kepada pertanyaan atas penetapannya.

Diambil dari: http://www.patheos.com/blogs/scriptorium/2013/12/personhood-according-to-pannenberg/

JEJAK ARTIKEL